Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label SEORANG SAHABAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEORANG SAHABAT. Tampilkan semua postingan

KEBAHAGIAN KU DI REBUT SAHABATKU SENDIRI.

CERITA KISAH NYATA SEORANG SAHABAT KEPADA SUAMI. Sudah pukul Sepuluh malam, tapi aku enggan pulang. Rasa sakit di pipi tak aku hiraukan, mungkin pipiku membengkak sekarang, karena sakitnya masih sangat terasa. Mushola yang terdapat tak jauh dari cafe menjadi pilihanku. Setidaknya, aku bisa menenangkan diri di sini. Meski aku sama sekali tak bisa meredam rasa sakit di hati. Mas andi sama sekali tak mengejarku saat aku pergi meninggalkan cafe. Mungkin suamiku itu tengah sibuk menenangkan selingkuhannya. Ponsel di saku celanaku bergetar, tapi ku abaikan. Aku tengah tak siap berbicara dengan siapapun. Ku kira, aku yang akan menampar Yuliana, tapi nyatanya justru aku yang mendapat tamparan dari suamiku. Sebagai bentuk pembelaan pria itu pada sahabatku. Sahabat? Apa aku masih bisa menganggapnya sahabat. Luka yang mereka torehkan terlampau dalam, aku saja tak tahu apa bisa menyembuhkan luka ini dan memaafkan mereka. "Ibu, aku mau pulang," lirihku. Air mata yang sempat mengering kini mulai berbondong-bondong datang kembali, berdesakkan ingin keluar dari mataku. Ku tengadahkan kepala, mencoba menahan genangan air mata yang siap meluncur. Aku sangat lelah, sedari tadi terus menangis meratapi nasib. Mungkin wajahku tampak sangat kacau saat ini, bukan hanya pipiku saja yang membengkak, tapi juga kedua mataku. Mungkin, aku memang harus pulang untuk berkemas. Aku sangat membutuhkan ibu, aku ingin menenangkan diri di kampung halaman sebelum aku mengambil keputusan tentang jalan yang akan aku tempuh selanjutnya. Dengan langkah gontai ku tapaki halaman mushola, menuju motor yang ku parkir di bawah pohon mangga. Malam ini juga, aku akan pulang ke kampung. Menggunakan Bus juga tak masalah, yang penting aku bisa pulang malam ini juga. Menempuh perjalan selama Lima Belas menit, akhirnya aku sampai di rumah. Rumah yang aku harap bisa menjadi syurga untukku dan anak-anak ku kelak. Tapi seketika menjadi neraka saat aku tahu hati suamiku sudah terbagi. Keningku mengernyit, di halaman rumah tak hanya mobil Mas andi yang terparkir, tapi juga mobil Rio, aduk iparku. Sepertinya, keluarga suamiku sedang berkumpul di dalam sana. Ku hembuskan nafas dengan gusar, aku enggan bertemu dengan mereka. Tapi aku harus masuk, aku harus mengemasi barang-barang ku. "Assalamualaikum," kataku, yang seketika membuat semua orang yang tengah berkumpul di ruang tamu menoleh. Ibu tampak beranjak, berjalan cepat menghampiriku di ambang pintu. "Sayang," lirihnya seraya memelukku. Bahu ibu bergetar, beliau menangis dalam pelukanku. Dari sikap ibu, aku tahu bahwa beliau juga mengetahui semuanya. Apa yang mereka pikirkan? Kenapa mereka membiarkan Mas andi berselingkuh. Membiarkan Mas andi terjerumus dan terus melakukan dosa. "Apa ibu juga tahu?" Tanyaku dengan suara tercekat. Rasa sesak ini kian menyiksaku, aku bahkan tak tahu harus menggambarkan rasa ini dengan kalimat apa.

PEMBUATAN PUDING

Resep "Puding Coklat Bahan : - 1 sachet agar-agar plain - 2 sachet chocolatos - 2 sacet skm coklat - 2 sdm maizena - 6 sdm gula pasir...